SLIDE 1
 
 
1
2
Iklan_herbaVOMITZ
iklan_bjbsyariah
iklan_bnisyariah
iklan_hajimoelseafoodpusat
iklan_infaqcenter
iklan_majalahalbahjah
iklan_muamalat
 

Ancaman Perompak dan Sosok ‘Amir Makkah’ dalam Kisah Perjalanan Haji Ibnu Zubair

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Abu al-Husain bin Muhammad Zubayr, biasa dikenal Ibnu Zubayr. Ia adalah orang Inggris, menjabat sebagai sekertaris pelayanan Gubernur Granada dan terkenal dengan bakat sastranya. Selama pengabdian kerjanya,  ia sempat terhanyut  dalam kebiasaan meminum khamr. Untungnya,  Zubair segera infsar dan menyesal telah melanggar hukum Islam. 
spa_1203-2


Melihat perilakunya, sang pelindug, yakni Gubernur Granada, tergerak hatinya melihat keadaan atas  Ibnu Zubayr.  Ia pun segera memberi izin untuk pergi haji ketika Zubaiar mengatakan ingin pergi berziarah ke Makkah. Sang Gubernr pun membekalinya dengan memberikan uang saku kepadanya.

Setelah berangkat menuju Makkah, di dalamperjalanan haji Zubair mengalami kejadian dramatis.  Saat itu, yakni tahun 1183 H, dia mengawai perjalanan dengan pergi ke Maroko. Zubair menumpang sebuah kapal asal Genoa yang membawanya ke Alexandria di Mesir. 

Mungkin Zubair sengaja memilih kapal asal Genoa karena selama periode perang salib pada saat itu kota-kota Italia didominasi oleh perdagangan Mediterania. Tak hanya itu kapal mereka itu relatif aman dari serangan bajak laut. 


Maka Zubair pun menggunakan kapal Eropa yang dibuat oleh muslim dari kawasan mediterania barat yang telah ke depannya terus beroperasi selama berabad-abad.. Pada abad ke-17 misalnya, kapal-kapal asal Genoa ini sering menjelajahi wiayah Alzazair, Tunisia, dan Tripoli. Para penjelajah selalu menggunakan kapal dari Inggris atau Perancis ke Alexandria, dan kemudian bergabung dengan penziarah haji dari Kairo.

Ketika Ibnu Zubayr tiba di Mesir, negara itu di bawah pemerintahan Sultan Salahudin (Saleh al-Din Ayyubi). Kemudian, atas izin Sultan Aydhad berangkat ke pelabuhan Mesir menggunakan kapal Eropa yang dibuat oleh Muslim dari mediterania  yang pada saat itu masih merupakan pusat perdagangan dunial.

Selama perjalanan  Ibnu Zubayr sempat membuat catatan terhadap penduduknya yang sebagian besar negatif.  Ketika sampai di pelabuhan Pearl dia menulis begini: …memang rakyat di sini lebih terlihat kejam karena mereka kebanyakan laki-laki. Berbagai  kesan-kesan buruk tentang perjalanan haji selelau mereka ceritakan. Ini misalnya, soal adanya kapal yang terakhir digunakan untuk menyeberangi laut merah yang selalu kelebihan beban, sehingga penumpang yang seperti ayam dalam keranjang. 

Dengan seperti itu, Zubair pun menyimpulkan, itu masuk akal katena pemilik kapal berusaha untuk memaksimalkan pendapatan mereka, tanpa memperhatikan keselamatan penumpang, Menurutnya: banyak yang bilang bahwa pemilik hanya menyediakan kapal,tapi tanggung jawab keselamatan dan keamanan ditanggung oleh penumpang sendiri.

Zubair pun kemudian memperingatkan kepada semua jamaah haji agar memilih  menggunakan rute dengan jalan memutar yang panjang sebagai alternatif. Penziarah datang dari wilayah Mediteranian Barat disarankan oleh Ibnu Zubayr untuk melakukan perjalanan ke Baghdad melalui Suriah, dan melanjutkan perjalanannya dengan rombongan khalifah yang datang dari Bagdad. 

Hal itu karena bila melalui jalur tersebut maka perjalanan menjadi terlalu lama. Namun ini pun sebenarnya masih lebih mudah bila dibandingkan melalui jalur laut yang selalu dipenuhi para perompak sebelum akhirnya dapat lolos atau bertemu dengan kota pelabuhan Aydhab. 

Ibnu Zubayr juga menyebutkan rute ziarah di dekat pantai yang dipimpin dari Mesir ke Sinai dan menuju Madinah yang disebut ‘Aqaba’. Rute ini banyak diikuti oleh jamaah haji dari Mesir hingga abad ke-17 M. Ibnu Zubayr mengatakan rute yang dilewati ini melalui sebuah kastil Crisader Frank yang terletak di sekitar situ.

Selama dalam perjalanan menuju Makkah, Ibnu Zubayr pun melakukan pelayaran pendek dari seberang laut merah yang menurutnya sangat merepotkan. Selain itu pada perjalanannya, dia juga sempat melalui jalur peziarah yang menuju Baghdad. Meksi begitu, Zubair pun mengaku bila pilihan melewati Baghdad itu dipengaruhi oleh motivasi pertimbangan keamanan untuk menghindari ancaman badai besar. 

Pilihan rute ini pun cukup efektif karena dapat memperpendek waktu perjalanan hingga  delapan hari dari lama perjalanan yang lazim di tempuh pada rute Aydhab dan Jeddah sebagai kota pelabuhan terdekat dari Makkah.

Soal tabiat penduduk kawasan Hizaz, Ibnu Zubayr pun mengeluh karena mereka kerapkali bertidak kejam mengekspoitasi para peziarah haji. Banyak warga Hizaz yang menggunakan segala macam strategi  untuk mengambil bekal dan uang para peziarah. Zubair pun mencatat bila punya  pengalaman buruk terkait dengan perilaku ‘Amir Makkah.’

Saat itu, penguasa tanah Hijaz, yakni Sultan Salahuddin,  sudah berusaha untuk mengurangi kesulitan para peziarah dengan menetapkan banyak ‘Amir ‘ (pemimpin perjalanan) sebagai petugas dengan memberikan imbalan yang diambil dari sebagian uang dan bekal para ziarah. Namun, para ‘Amir’ itu selalu lupa akan tugasnya dan terus menuntut para peziarah memberikan imbalan di luar ketentuan.

Dengan demikian, Zubiar pun kemudian melihat betapa para peziarah kerapkali dipakai sebagai sarana eksplotasi pendapatan yang sah para ‘Amir’. Meski begitu, Zubair kemudian melihat bila pengawasan Sultan Salahuddin terlambat tiba, maka para peziarah aya dari Andalusia terlihat mampu menjadi pengawas pengganti yang baik untuk para pemimpin atau ‘Amir’ perjalanan haji.

Ibnu Zubayr pun sempat punya pengalaman buruk ketika dia bersama dengan temannya ijadikan sebagai pelayanya yang disandera untuk menjamin pasokan  gandum Mesir dan keuangan. Pengalaman kelam ini disebab Ibnu Zubayr saat itu pernah berkomentar kasar tentang kepercayaan orang Hijaz yang dianggap bayak melakukan pembid’ahan. 

Melihat keruwetan itu, Zubari pun berharap bahwa tanah Hijaz mungkin lebih tepat diurus atau ditaklukan oleh dinasti Spanyol Muwahiddun/Almohads. Sebab, banyak praktik penduduk Hijaz yang malah menjadi ladang dosa serta berbagai praktik ajaran Islam yang sesat. 

Meski begitu, Zubair pun mengaku masih mengekspresikan kemarahannya secara moderat. Katanya, tentu saja Amir Makkah kerap bertidak tidak adil, sebagai penguasa itu yang sudah banyak mendapatkan nasihat dari  Sultan Salahuddin. Namun demikian bagaimanapun dia tetap keturunan Nabi Muhammad yang tetap harus dihormatinya.