SLIDE 1
 
 
1
2
Iklan_herbaVOMITZ
iklan_bjbsyariah
iklan_bnisyariah
iklan_hajimoelseafoodpusat
iklan_infaqcenter
iklan_majalahalbahjah
iklan_muamalat
 

Belas Kasih Imam Asy Syarbini terhadap Onta Sewaan

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Tuesday, 21 February 2017 07:34

Belas Kasih Imam Asy Syarbini terhadap Onta Sewaan


IMAM ASYARBINI adalah ulama besar madzhab Asy Syafi’i di masanya. Ulama shalih mufti di Al Azhar itu benar-benar menjaga akhlak dan ibadahnya saat menempuh perjalanan menunaikan ibadah haji.

Imam Asy Syarbini menyewa seekor onta untuk menemani perjalanannya. Namun, ia lebih banyak menuntun hewan itu saat perjalanan baik siang maupun malam, sambil membaca Al Qur`an dan wirid. Penulis kitab Mughni Al Muhtaj ini tidak mengendarai onta itu, kecuali jika dirinya sudah merasa lelah berjalan, karena rasa kasihan terhadap hewan tersebut. (Lawaqih Al Anwar Al Qudsiyyah, hal. 215)

   

Ibu Sentral Kehidupan

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Saturday, 18 February 2017 05:58

CINTA terhadap anak adalah santapan jiwa yang dapat memberi, pengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya. Jasmani membutuhkan santapan makan, sedangkan rohani memerlukan santapan cinta kasih.

Anak – anak sangat membutuhkan belaian kasih dan kehalusan jiwa sejak awal mula kehidupannya, sehingga tumbuh dewasa dan berhubungan dengan masyarakat secara baik.

Menciptakan hubungan harmonis, penuh kasih sayang dan hormat menghormati. Mereka berani mengarungi realita hidup dengan penuh keyakinan dan keberanian. Harapan, semoga kita dapat menciptakan kasih sayang yang sempurna dalam hubungan keluarga, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam telah membimbing kita. Abu Hurairah menerangkan, bahwa Aqra’ bin Habis melihat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam mencium cucunya Hasan bin Ali atau Husain bin Ali. Ia berkata: “Aku mempunyai sepuluh orang anak. Belum satu pun yang pernah aku cium pipinya.” Maka Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Baragsiapa tidak memiliki rasa kasih sayang, maka tidak akan dikasih sayangi Allah.”

Diantara kewajiban seorang ibu yang harus dilaksanakan terhadap anak – anaknya ialah menanamkan perasaan cinta kasih dalam lubuk hati mereka yang paling dalam.

Mengusir jauh – jauh sifat dan sikap benci dari jiwa mereka. Anak memiliki kepribadian sempurna ialah yang mencintai keluarga dan saudaranya. Kasih sayang terhadap orang – orang lemah. Menjauhi orang – orang yang berakhlak rendah bagaikan binatang.

Perasaan cinta kasih dapat ditananamkan kepada anak dengan jalan melatih menjauhi permusuhan dan kegemaran menyakiti atau merugikan orang lain, senang perdamaian dan menghormati sesama.

Apabila sejak kecil seorang anak telah dibiasakan melakukan hal – hal yang baik, maka ia akan menjalin hubungan yang baik dengan teman – teman. Memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, sehingga ia dicintai dan dikagumi masyarakat. Ia lebih cenderung mengikuti kebaikan – kebaikan yang dilakukan masyarakat, dan kehendak pun akan diikuti pula oleh masyarakat.

Cinta kasih dan kasih sayang tidak akan tertanam dan menjadi kenyataan dalam kehidupan anak kalau hanya mengandalkan petunjuk – petunjuk yang diberikan oleh seorang ibu. Ia hanya dibekali dengan keterangan –keterangan dan nasehat. Namun apabila seorang ibu menanamkan sikap keibuan yang lembut dan kebiasaan – kebiasaan yang baik sejak kecil, maka akan menjadi kenyataan dalam kehidupan anak.

Dan apabila kebiasaan melakukan hal – hal yang baik ditanamkan dengan melatih secara penuh kasih sayang dalam praktek hidup keseharian, maka akan memberikan dampak positive dalam perkembangan jiwa. Mudah dilakukan oleh seorang anak, yang akhirnya akan ringan pula dilakukan pada masa – masa selanjutnya.

Apabila kita berbicara masalah “ rumah tangga ” maka lebih dahulu kita satukan pandang dalam percakapan, yakni rumah tangga adalh satu ikatan yang kuat. Tidak ada perbedaan antara yang kecil dengan yang besar, yang kuat dengan yang lemah, laki – laki dengan perempuan. Setiap individu dalam tubuh keluarga mempunyai tabiat dan kepribadian sendiri – sendiri.

Sebagai sosok manusia yang berdiri sendiri tanpa ketergantungan yang lain. Mempunyai kecenderungan dan kemampuan khusus, yang tidak dimiliki anggota keluarga yang lain. Karena itu kewajiban seorang ibu ialah memperlakukan mereka secara adil.

Misalnya, seorang anak yang lebih dewasa mengetahui ibunya lebih memperhatikan adiknya, baik dalam memenuhi kebutuhan maupun kasaih sayang, maka jiwanya akan terpengaruh. Sikap pilih kasih ini akan melahirkan tekanan batin yang mendatangkan dampak negatif bagi kehidupan anak yang merasa kurang diperhatikan.Jangan pilih kasih, memprioritaskan salah satu anak. Misalnya, lebih mengasihi anak yang kecil daripada kakaknya, lebih mencintai anak laki –laki daripada perempuan. Hal ini akan memberi pengaruh negative dan jelek terhadap salah satu anggota keluarga, sehingga keharmonisan hubungan diantara mereka akan hancur dan punah.

mendidik-anak-sholeh1-32zokd77icilthlycd7ke8

Minimal timbul perasaan benci terhadap adiknya yang dianakemaskan oleh orang tua. Akibatnya, hubungan kasih sayang menjadi putus diantara mereka. Bahkan lebih cenderung memusuhi kepada inu yang memanjakan adiknya. Dan rasa kecemburuan terhadap keluarga yang lain tentu lebih besar. Kasih sayang seorang ibu harus dibagi rata terhadap anak – anaknya, agar tidak timbul tekanan batin dan retaknya hubungan kasih sayang diantara mereka.
 

Laki –laki maupun perempuan diperlakukan sama,dengan penuh keadilan dan perbandingan yang wajar. Jangan sekali – sekali mengistimewakan slah satu anak dalam kasih sayang, sedangkan terhadap anak yang lain biasa – biasa aja.

Jangan memperlihatkan kemesraan hubungan dengan salah satu anggota keluarga tanpa menyertakan yang lain. Jangan mencurahkan kasih sayang terhadap anak tanpa adanya kebijaksanaan. Cinta kasih seorang ibu yang dicurahkan kepada anak – anak dengan penuh kebijaksanaan merupakan pintu menuju keharmonisan hubungan antara anggota keluarga.

Mencapai kebahagiaan hidup dan ketentraman lahir batin. Sejuk dan nyaman berada dalam lingkungan keluarga. Kesejukan itu tidak terkena polusi keirian dan kebencian. Dari sumber inilah akan lahir anak – anak yang sholih, berguna bagi agama nusa dan bangsa.

Anak shalih hanya lahir dari keluarga yang maslahah dan sakinah. Keluarga yang penuh kedamaian, ketenteraman, teguh dalam keimanan dan pendirian.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam adalah teladan yang baik bagi umat manusia. Beliau telah bersabda : “Berbuat adillah kamu terhadap anak – anakmu. Demikian dalam mencium pipinya.”

Adil, tidaklah selamnya harus sama, tetapi bijaksana dalam memberikan kasih sayang dan memenuhi kebutuhan, sesuai tingkat keperluan mereka.*/Alief Z Makarim, diambil dari buku “Wahai Ibu Selamatkan Anakmu” (karangan Hamid Abdul Khalid Hamid)

 

 

   

6 Karakter Lebah yang Mengandung Hikmah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Friday, 30 December 2016 08:57

Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih, dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya)" (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Bazzar). Tentu, ada keistimewaan yang dimiliki hewan kecil bernama lebah ini hingga nabi menjadikannya inspirasi bagi seorang mukmin, bahkan Allah mengabadikan namanya pada salah satu surah ke-16 dalam Alquran, yakni an-Nahl.

Seorang mukmin haruslah memiliki sifat-sifat unggul dan istimewa dibandingkan dengan manusia lain. Kehadirannya selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Seperti dijelaskan Rasulullah SAW, "Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain." Perhatikan beberapa karakter lebah yang mengandung hikmah untuk diambil manfaat. Pertama, hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih. Lebah hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lain yang mengandung bahan madu atau nektar.
a-blue-banded-bee-hovers-above-a-pink-flower-_161118133425-244Begitulah pula sifat seorang mukmin, haruslah mencari dan makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di muka bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan (QS al-Baqarah [2]:168). Karena itu, jika mendapatkan amanah, dia akan menjaga dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi merupakan khabaits (kebusukan). Kedua, mengeluarkan yang bersih. Dari lebah yang dikeluarkan adalah madu yang menyehatkan bagi manusia. Dia produktif dengan kebaikan dibandingkan binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikkan. Seorang mukmin seyogianya produktif dengan kebajikan (QS al-Hajj [22]:77).

Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya bukan menyengsarakan orang lain, melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaatan manusia. Ketiga, tidak pernah merusak. Lebah biar bagaimanapun menambatkan diri di dahan. Dahan itu tidak rusak dan patah. Artinya, tidak merusak lingkungan hidupnya, padahal dia tidak punya akal. Manusia yang katanya punya akal justru berlomba-lomba merusak lingkungan hidupnya sendiri demi keserakahan diri sendiri dan keturunannya. Egoistis tidak memikirkan orang lain menderita nantinya atau tidak.
Keempat, bekerja keras.
Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat "menetas"), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Seorang mukmin lebih dituntut bekerja keras dan semangat pantang kendur. Jika telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain (QS as-Syarh [94]:7).
Kelima, bekerja secara kolektif dan tunduk pada satu pimpinan. Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya.

Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengundang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman yang diibaratkan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS ash-Shaff [61]:4)

Keenam, tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu. Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan "kehormatan" umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin harus memiliki solidaritas dan kepedulian empati terhadap sesamanya, dalam kondisi dan keadaan apa pun bagai satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Wallahu a'lam.

   

Wujud Kebaikan pada Kesulitan

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Thursday, 22 December 2016 08:51

Seorang peneliti pernah melakukan percobaan. Ia ingin mengetahui respons katak terhadap suhu air. Percobaan dimulai dengan mempersiapkan dua ekor katak dan dua tungku elektrik yang di atasnya terdapat dua wadah yang berisi air. Katak yang pertama dimasukkan ke wadah yang berisi air bersuhu kamar. Pada suhu tersebut katak diam, tidak bergerak karena merasa nyaman. 
ind_0919

Setelah dibiarkan beberapa saat, air di wadah itu dinaikkan suhunya dua derajat Celcius. Karena kenaikan suhu sangat rendah, katak masih merasa nyaman sehingga tidak bergerak. Menaikkan suhu dua derajat Celcius terus diulang. Dan setiap kali suhu dinaikkan katak tetap tidak bergerak karena merasa nyaman. Sampai suhu air 100 derajat tetap saja katak tidak bergerak karena mati.

Berbeda dengan katak yang pertama, katak yang kedua dimasukkan ke wadah berisi air yang suhunya 100 derajat Celcius. Begitu dimasukkan, katak langsung loncat keluar wadah karena merasa sakit. Kita suka merasa galau jika dihadapkan pada kesulitan. 

Padahal, padanya terdapat kebaikan dalam bentuk kreativitas sebagaimana diperlihatkan oleh loncatan katak karena merasa sakit oleh panasnya air. Dan sebaliknya kita sering merasa nyaman dengan ketenangan padahal di balik itu terkadang sedang menanti lonceng kematian sebagaimana diperlihatkan oleh katak yang mati.

Sejatinya, kesulitan itu ada dua macam, yakni kesulitan yang sengaja dibuat bahkan direncanakan oleh kita dan kesulitan yang diberikan Allah SWT. Pada kedua kesulitan tersebut terdapat kemuliaan atau kebaikan. Kita suka membuat kesulitan karena yakin padanya terdapat kebaikan. Bekerja dan belajar, misalnya, merupakan aktivitas sulit. Namun, semuanya dilakukan dengan penuh kesenangan karena kita yakin pada keduanya terdapat banyak kebaikan.

Dengan bekerja, kita akan mendapatkan upah untuk menopang kehidupan. Sedangkan, dengan belajar, kita akan mendapatkan ilmu. Bertambahnya ilmu tidak hanya akan mendatangkan kebaikan dunia tetapi juga kebaikan akhirat. Sebagimana firman-Nya “... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujadalah: 11).

Kebaikan yang sama terdapat pada kesulitan yang diberikan Allah SWT. Di dalam Alquran, kesulitan jenis ini biasa disebut ujian (fitnah) atau mushibah. Mengenai kebaikan ujian (fitnah) ditegaskan oleh Alquran sebagai instrumen untuk menaikkan kualitas keimanan. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabut:2).

Pada musibah pun terdapat kebaikan sebagaimana sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan, Allah akan menimpakan kepadanya musibah. (HR Imam al-Bukhari). Secara terperinci dijelaskan dalam hadis lain bahwa kesulitan merupakan instrumen penghapus dosa, “Tiada seorang mukmin yang ditimpa oleh lelah atau penyakit atau risau pikiran atau sedih hati sampai jika terkena duri melainkan semua penderitaan itu akan dijadikan penghapus dosanya oleh Allah.” (HR Bukhari-Muslim).

Jadi, kita tidak boleh galau jika dihadapkan pada kesulitan karena padanya terdapat kebaikan dan kemuliaan. Bahkan, kalau perlu kesulitan harus direncanakan supaya hidup lebih baik dan mulia. Wallahu alam.

   

Lelaki anshar dengan tiga anak panah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Tuesday, 20 December 2016 08:32

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, dia berkata, “Dalam suatu peperangan kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju salah satu daerah orang musyrik. Kami berhasil menawan istri salah seorang di antara mereka, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali.spa_1203-2

Tidak lama kemudian, suami perempuan tersebut datang, kemudian diceritakan kepadanya tentang keadaan yang terjadi. Suaminya bersumpah, bahwa ia tidak akan pulang ke rumah sehingga dapat melukai para sahabat Nabi.

Ketika Rasulullah sedang dalam sebuah perjalanan, beliau berhenti di suatu perkampungan lalu bertanya, ‘Siapakah dua orang di antara kalian yang bersedia agar nanti malam menjaga kami dari serangan musuh?’ Seorang lelaki dari kaum Muhajirin dan seorang lelaki dari Anshar menjawab, ‘Kami berdua akan menjaga engkau, wahai Rasulullah.’



Dua orang lelaki tersebut berangkat menuju mulut gang perkampungan tanpa disertai seorang pengawal pun.

Lelaki Anshar bertanya kepada lelaki Muhajirin, ‘Kamu dulu yang akan berjaga lalu aku ataukah aku dulu lalu kamu?’

Lelaki Muhajirin menjawab, ‘Kamu dulu saja. Aku belakangan.’

Lalu lelaki Muhajirin tidur, sedangkan lelaki Anshar mulai berdiri untuk qiyamullail, ia membaca ayat-ayat Al-Quran.

Di tengah-tengah membaca ayat Al-Quran di dalam qiyamullail itu, suami perempuan musyrik tersebut datang. Ketika ia melihat ada seorang lelaki yang sedang berdiri (tidak tidur), ia menyangka pasti dia pemimpin mereka. Lalu, dengan cepat ia mengambil panah dan melepaskan ke arah lelaki yang sedang shalat hingga mengenainya. Lelaki Anshar itu mencabutnya dan dia tidak bergeser sedikit pun, karena tidak ingin memutus bacaan Al-Qurannya.

Lalu suami perempuan musyrik itu mengambil satu panah lagi dan dibidikkannya ke arah lelaki Anhsar, tetapi ia kembali mencabutnya tanpa memutuskan shalatnya dan bacaan al-Qurannya. Suami perempuan musyrik itu mengulangi, untuk yang ketiga kalinya, melepas panah ke arah lelaki yang sedang berdiri melaksanakan qiyamullail. Ia kembali mencabut anak panah, meletakkannya dan melanjutkannya dengan rukuk dan sujud. Seusai shalat, lelaki Anshar itu membangunkan lelaki Muhajirin yang sedang tidur sambil berkata, ‘Bangun!, sekarang tiba giliranmu.’ Kemudian lelaki Muhajirin bangun dan duduk.

Ketika suami perempuan musyrik melihat ada dua orang berjaga, yang satu menolong kawannya, ia mengetahui bahwa nazarnya telah terpenuhi.

Ternyata, dari tubuh lelaki Anshar itu mengalir darah karena terkena panah suami perempuan musyrik tadi.

Lelaki Muhajirin berkata kepada kawannya, ‘Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosamu, mengapa kamu tidak memberi tahu aku pada saat panah pertama mengenai tubuhmu?’

Lelaki Anshar menjawab, ‘Ketika itu, aku tengah membaca salah satu surat Al-Quran dalam qiyamullail-ku. Aku enggan menghentikan bacaanku. Dan demi Allah, sekiranya aku bergeser, berusaha meninggalkan benteng pertahanan yang Rasulullah memerintahkan agar dijaga, pastilah aku binasa sebelum aku menghentikan bacaan Al-Quranku tadi.'” (Shifatush Shofwah, 1/773). (arrahmah.com)

   

Hakikat kesulitan

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Thursday, 15 December 2016 06:29

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menyaksikan dua orang yang dihadapkan pada dua kesulitan yang sama namun respons dan efeknya berbeda.

Misalnya, ada dua orang yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Yang satu merespons kejadian tersebut dengan sikap positif sehingga hilangnya pekerjaan tidak menjadikannya terpuruk malah menjadikannya semakin maju. 

Baginya kehilangan pekerjaan bukan kiamat, tapi awal keluar dari zona nyaman dan rutinitas menuju zona penuh tantangan dan kemuliaan. Namun, orang yang satunya lagi merespons peristiwa tersebut dengan sikap negatif dan pesimis. 

Kehilangan pekerjaan dianggap sebagai awal kehilangan segalanya. Akibatnya hidupnya menjadi lebih terpuruk. Lantas, apa hakikat kesulitan itu? Mengapa dua orang yang berbeda merespon satu kesulitan yang sama dengan cara yang berbeda? 

Menurut Alquran, kesulitan atau kesusahan merupakan bagian hidup manusia. Siapapun kita sepanjang masih berstatus manusia pasti pernah, sedang, dan akan mendapat kesulitan. Hal tersebut ditegaskan oleh ayat, ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS al-Balad: 4). 

Alquran menyebut kesulitan (susah payah) dengan kata kabad. Kata kabad sendiri seakar kata dengan kabid yang berarti  hati. Jadi, ketika Alquran menyebut kesulitan dengan kata kabad, itu mengisyaratkan bahwa kesusahan dan kesenangan salah satunya ditentukan oleh kondisi hati. 

Hati yang bersih, lapang dan penuh optimisme akan mengubah kesulitan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Sebaliknya, hati yang kotor, picik, dan penuh pesimisme tidak hanya akan menyebabkan kesulitan menjadi beban, bahkan kenikmatan pun bisa menjadi kutukan. 

Kondisi hati inilah yang dapat menjelaskan perbedaan respons dari dua orang yang dihadapkan pada kesulitan yang sama. Jadi, kesulitan tidak selamanya ada pada obyek yang kita hadapi. Kesulitan lebih banyak ditentukan oleh hati dan pikiran kita. Dengan kata lain sulit dan mudah, susah dan senang adanya di dalam hati dan pikiran tidak selamanya pada obyek di luar diri kita. 

Sesulit apapun persoalan yang kita hadapi, jika diterima dengan hati bersih penuh dengan keikhlasan dan ketawakalan, semuanya akan berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Dan semudah apapun persoalan yang kita hadapi jika diterima dengan hati yang sempit akan berubah menjadi beban yang sangat berat. 
bou_194

Nabi Muhammad SAW menyebut hati yang baik adalah hati yang dipenuhi dengan keimanan. Dan orang yang hatinya dipenuhi dengan keimanan akan melihat segala peristiwa yang menimpa pada dirinya dari sisi positif.

Ia menganggap semua peristiwa mengandung kebaikan. Oleh karena itu, ia akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa kesusahan. Baginya susah dan senang sama saja sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah SWT.

Berkaitan dengan hal tersebut, Nabi SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” ( HR Muslim).

   

Sejarah Madinah dan Keistimewaannya

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Tuesday, 06 December 2016 08:07

Dikutip REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Madinah, selain Makkah sangat istimewa umat Islam di dunia. Madinah dikenal sebagai tanah Haram (tanah Suci) seperti kota Makkah.

400px-kota_madinah_1Di kedua kota suci ini dilarang melakukan segala hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, Diantara larangan itu, antara lain tidak diperbolehkannya melakukan perburuan pada binatang, menebang pohon, merusak lingkungan jugaperkelahian apalagi sampai terjadi pertumpahan darah.

Selain itu, kedua kota ini adalah tempat yang paling aman di tempati segala makhluk hidup. Sesuai dengan hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a  :

“sesungguhnya iman itu akan kembali ke Madinag sebagaimana ular kembali ke lubangnya”

Serta hadist lain yang diriwayatkan Abu Hurauirah r.a : Rasul bersabda “Pada jalan-jalan masuk menuju Madinah terdapat para malaikat (yang menjaga) sehingga wabah penyakit dan Dajjal tidak bisa melaluinya”. 

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ziad, Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan kota Makkah sebagai tanah Haram dan berdoa (meminta keberkahan) bagi kota Makkah. Dan aku (Rasulullah) menjadikan kota Madinah sebagai tanah Haram sebagaimana Ibrahim menjadikan Makkah sebagai tanah Haram. Aku mendo’akan barokah atas kota Madinah pada mudnya dan sha’nya seperti doa Ibrahim bagi Makkah”.

Madinah adalah kota yang disebut dengan Madinah Al-Munawarah yang berarti kota yang bersinar. Kata Madinah merupakan kata benda yang menunjukan tempat yang dibangun peradaban di atasnya.  
Madinah adalah nama yang diberikan Rasulullah setelah hijrah dari Makkah karena sebelum menjadi Madinah, kota ini bernama Yastrib dan nama itu diberikan oleh orang-orang Jahiliyah. Dahulu kota ini dibangun oleh seseorang yang bernama Yastrib dia adalah salah satu keturunan dari Nabi Nuh. Yastrib memimpin sebuah kabilah yang bernama A’bil,

Pada waktu yang bersamaan banyak sekali orang dan kelompok yang berdatangan ke kota Madinah Munawarah, diantaranya bangsa A’maliq yang mendirikan perkebunan dan berhasil menjalankan pembangunan di kota Madinah.

Selain itu, Madinah memiliki beberapa nama yang menunjukan bahwa kota ini memiliki derajat yang sangat tinggi, dalam beberapa penelitian yang dilakukan para sejarawan, nama-nama kota Madinah mencapai seratus nama.

Namun, dalam hadist shahih hanya ditemukan enam nama yaitu, Yatsrib, Al-Madinah dikenal setelah hijrahnya Rasulullah. Thobah atau Tahibah nama ini diberikan Rasulullah karena pada masa itu sudah mulai banyak orang yang mengikuti jejak dan ajaran agama Allah, Ad-Dar dan Iman.

Perubahan nama Yastrib menjadi Madinah dilakukan oleh Rasulullah setelah beliau hijrah dari Makkah ke Yastrib, dan saat itulah langkah awal terbentuknya Daulah Islamiyah pertama di muka bumi ini. persitiwa hijrah ini juga memberikan keterangan atas berdirinya Negara Islam yang dipimpin Rasulullah dengan sistem yang beliau bangun dengan syarat-syarat minimal untuk disebut sebagai negara. 

Jarak antara Makkah dan Madinah 425 km. Madinah terletak di tengah-tengah tanah yang subur.

Di sebelah Barat Laut terdapat pemandangan Bukit sila’ dan di Selatan ada Jabal ‘Eir dan Wadi “Aqiq. Jabal Uhud, Jabal Tsur dan Wadi Qanaf menjadi satu kawasan tanah hitam (Waqim Asy-Syarqiyyah) dan Harrah Wabrah Al-Gharbiyah terletak di sebelah Barat kota Madinah.

Beberapa abad sebelum Masehi terdapat beberapa kerajaan yang berada dibawah kekuasaan Madinah yaitu kerajaan Ma’niyin, Saba’iyin, dan Kaldaniyin. Ketiga kerajaan itulah yang memicu perubahan besar dan perkembangan Madinah.

Pada tahun 132 M tiga kabilah yaitu kabilah Bani Quraizah, Bani Nazhir dan Bani Qainuqa datang ke kota Madinah, mereka banyak melakukan aktifitas di perekebunan karena mereka sangat ahli dalam bidang tersebut. Dengan keahlian itu mereka memproduksi dan mengelola hasil perkebunan dengan baik. 

Ketika bendungan Ma’arib di negeri Yaman runtuh, kabilah Aus dan Khadraj mengungsi ke Madinah, pada saat yang bersamaan ornag-ornag yahudi membutuhkan pekerja-pekerja yang memiliki keuletan dan mereka memperkerjakan Kabilah Aus dan Khadraj di perkebunan yang mereka miliki.

Seiring berjalannya waktu kondisi kaum Aus dan Khadraj semakin membaik dan ini menumbuhkan ketakutan kaum Yahudi, karena mereka takut disaingi oleh kaum Aus dan Khadraj kemudian terjadilah pertikaian antara dua kubu. Para tokoh dari masing-masing sepakat untuk mengadakan perjanjian bahwa kedua belah pihak dapat hidup dengan damai dan bersatu membela kota Madinah apabila ada penyerangan dari kota lain.

Namun perjanjian ini tidak berlangsung lama. Orang-orang Yahudi melanggar perjanjian tersebut dan mereka berusaha menjatuhkan kaum Aus dan Khadraj.

Kaum Yahudi melakukan pembunuhan terhadap beberapa kaum Aus dan Khadraj, kejadian ini mendorong kaum Aus dan Khadraj meminta bantuan kepada kaum Ghassasinah yang berada di Syam. Ghasasinah bergegas membantu kaum Aus dan Khadraj  dengan mengirim pasukan untuk melawan kaum Yahudi agar dapat mematahkan kekuaatan Yahudi.

Pada akhirnya, kedua belah pihak kembali melakukan kesepakatan perdamaian tapi itu pun tidak berlangsung lama, Yahudi kembali memfitanh dan menyulutkan api peperangan kepada kaum Aus dan Khadraj.

 

 

   

Sang Raja yang Sakit

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Thursday, 01 December 2016 09:48

DIkutip dari http://www.eramuslim.com - Pada suatu kesempatan ketika sedang Jum’atan, seorang Ustadz bercerita dialog antara Malaikat dan Allah. Dialog terjadi berawal dari keputusan Allah yang membuat Malaikat menjadi bertanya-tanya…?  Masalahnya perihal ada seorang raja yang sholeh terlihat nasibnya kurang baik. Tetapi di daerah lain ada seorang raja yang dzolim, nasibnya lebih baik dari pada raja yang sholeh tadi.

Kisahnya begini.  Pada suatu ketika raja yang sholeh menderita sakit keras dan untuk bisa sembuh, seorang tabib mengatakan agar raja itu memakan ikan tertentu.bukan ikan yang biasa, masalahnya ketika ikan itu dicari.. Ternyata saat itu ikan tidak dapat ditemukan. Padahal seharusnya pada saat itu biasanya ikan sejenis itu banyak bermunculan..Tapi berhubung Allah berkehendak lain, ikan tersebut tidak muncul-muncul, akhirnya wafatlah sang raja yang sholeh itu karena tidak mendapat obat.

Namun, sebaliknya di negara lain ada raja juga mengidap sakit yang sama seperti raja sebelumnya, tapi raja yang satu ini bukan raja yang sholeh, melainkan raja yang dzolim. Lalu sang tabib pun menyarankan untuk memakan ikan yang sama sebagai obatnya. Tapi anehnya saat itu di mana ikan-ikan itu biasanya tidak bermunculan, tapi Alloh berkehendak lain..ikan-ikan itu pun bermunculan dan akhirnya sembuhlah si raja dzolim itu.

Dengan kejadian itu, Malaikat pun jadi bertanya-tanya…dan saking penasarannya, bertanyalah malaikat pada Allah ” Ya Allah, kenapa raja yang dzolim itu Kau permudah urusannya, sedang raja yang sholeh itu Kau persulit hingga akhirnya dia meninggal dunia?” Lalu Allah menjelaskan “Sengaja Aku tidak memberi ikan pada raja yang sholeh untuk kesembuhannya dan Aku putuskan dia meninggal dunia, karena dengan begitu wafatnya dia Ku-anggap sebagai penggugur dosanya dari kesalahan yang pernah dia lakukan di dunia. Sehingga dia meninggal dunia tidak membawa dosa, melainkan membawa amal-amal sholeh. Karena keburukannya telah kubalas di dunia.”

Malaikat melanjutkan pertanyaannya, lalu bagaimana dengan raja yang dzolim itu ya Allah? Allah pun menjelaskannya kembali “Sebaliknya untuk raja yang dzolim itu sengaja Kuberi dia kesembuhan, karena walau gimana raja yang dzolim itu mempunyai kebaikan juga di dunia dan kebaikannya Kubalas di Dunia. Sehingga pada saatnya dia nanti meninggal dunia,  dia tidak akan membawa amal kebaikan, melainkan yang diamembawa hanya amal buruk karena kebaikan-kebaikannya sudah Kubalas di dunia.

padangpasirDari cerita di atas saya berfikir setidaknya kita mendapat pencerahan mengenai suatu dugaan yang salah dari peristiwa yang kita lihat atau yang kita alami sendiri, dugaan yang membuat kita bertanya-tanya kenapa Alloh berlaku tidak menguntungkan padaku padahal aku sudah ibadah…?! dan kita juga pernah melihat ada beberapa orang yang baik (sholeh/sholeha)tapi mereka dapat ujian juga tertimpa bencana alam atau musibah lain berupa sakit keras, kehilangan harta dan ada juga orang yang kecelakaan sampai cacat kehilangan anggota tubuhnya dan ada beberapa musibah lainnya.

Di sisi lain kita kadang sempat iri melihat orang yang ibadahnya biasa-biasa atau bahkan tidak ibadah sama sekali tapi kehidupannya makmur, sampai ada yang bergelimang harta, lalu kembali lagi kita menduga-duga, kenapa Alloh berlaku demikian…??? Jawabannya: Biar lah Allah berlaku sesuka-Nya pada kita dan pada hamba-hamba-Nya yang lain, karena Dia lah (Tuhan) Sang Pemilik Alam beserta isinya dan yang Maha Mengetahui apa yang akan diperbuat-Nya, kita sebagai manusia teruslah Ikhtiar dan meningkatkan ibadah tanpa harus mendikte Allah, keikhlasan kita dalam menerima segala ketentuan dari Allah, itu lah sesuatu yang teramat penting sekali! karena bila kita ridho terhadap ketentuan Allah, Allah pun akan memberikan ridho-Nya pada kita, sehingga kita akan mendapat rahmat-nya dijauhkan dari siksa api neraka yang amat pedih.

Mengenai musibah yang terjadi/menimpa, seperti itu tadi ikhlaskan saja, Insya Allah itu akan menjadi penggugur dosa yang nantinya akan mengurangi timbangan dosa di akherat dan akan memberatkan timbangan amal baik, seperti kisah raja yang sholeh di atas, dia tidak mendapat kebaikan di dunia, tapi Allah memberikan kebaikan untuknya di akherat, subhanallah.

Surat al-Baqarah : Ayat: 216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Wallahu’alam bish shawab.

   

Memaafkan Itu Lebih Indah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Wednesday, 30 November 2016 09:32

Maaf dan memaafkan adalah persoalan yanilustrasi-_120815204904-516_220x147g kadang susah sekali dilakukan. Apalagi bila sudah berada di posisi mampu untuk melakukan balas dendam. Hanya orang-orang berhati mulialah yang bisa melakukannya. Memaafkan adalah salah satu sifat Allah yang harus kita pakai di kala ada permasalahan dengan sesama. Karena yang namanya hidup bermasyarakat, gesekan dan konflik pasti selalu ada. Di situlah memaafkan menjadi salah satu solusinya.
Memaafkan nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apabila ada orang yang menzalimi, memfitnah, mencelakai, atau menuduh kita dengan sewenang-wenang, apakah kita akan langsung memaafkan orang tersebut? Belum tentu. Bahkan, bisa jadi kita akan melakukan hal yang sama kepada orang tersebut jika kita tidak berpikir rasional. Orang yang gemar memaafkan adalah mereka yang hatinya lapang, mulia, dan lembut. Mereka memaafkan semata-mata karena Allah SWT. Tidak ada permusuhan apapun di hatinya.

Kebeningan dan cahaya ilahi selalu hinggap di hatinya. Allah SWT berfirman dalam Hadis Qudsi, “Nabi Musa telah bertanya kepada Allah, ‘Ya Rabbi! Siapakah di antara hamba-Mu yang lebih mulia menurut pandangan-Mu?’ Allah menjawab, ‘Ialah orang yang apabila berkuasa (menguasai musuhnya), dapat segera memaafkan.’” (Hadis Qudsi Riwayat Kharaithi dari Abu Hurairah). Karena memaafkan, seorang hamba akan mendapatkan kemuliaan tak terhingga di sisi Allah. Derajatnya lebih tinggi dan lebih agung dibandingkan orang-orang yang di hatinya menyimpan dendam. Allah SWT berfirman, “Maafkanlah dan ampunilah mereka.

Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Ma’idah [5]: 13). Pada Perang Uhud Rasulullah SAW mendapatkan luka cukup serius di wajah dan beberapa giginya patah. Melihat kejadian memilukan ini, salah seorang sahabatnya berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah mereka agar celaka!” Beliau menjawab, “Aku sekali-kali tidak diutus untuk melaknat seseorang, tetapi aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan dan sebagai rahmat.” Lalu Rasulullah SAW menengadahkan tangannya kepada Allah SWT seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.” Sungguh, perbuatan mulia nan agung. Rasulullah SAW tidak membalas dendam, tapi memaafkan mereka dengan kasih sayang. Bahkan, beliau malah mendoakannya agar Allah mengampuni mereka.

Suatu ketika, orang kafir bernama Du’tsur mendapati Rasulullah SAW sedang istirahat di bawah pohon rindang. Kafir itu segera mengambil pedang Rasulullah SAW dan menghunuskannya sembari mengancam.
“Siapakah yang dapat membelamu dari situasi ini?” Dengan tegas Rasulullah SAW menjawab, Allah. Mendengar jawab beliau, Du’tsur gemetar dan pedangnyapun jatuh.
Rasul segera mengambil pedang itu dan berbalik mengancam Du’tsur seraya berkata, “Siapakah yang akan membelamu saat ini?”
Du’tsur menjawab, “Tidak ada seorang pun!”
Apa yang terjadi kemudian? Ternyata, Rasulullah SAW memaafkan dan membebaskan orang bernama Du’tsur yang tadi mengancamnya.
Akhirnya, Du’tsur pun berdakwah mengajak kaumnya memeluk agama Allah.
Semoga Allah menggolongkan kita ke dalam kelompok orang yang arif dan gemar memaafkan.
Akan tetapi, bukan berarti tidak tegas dalam membedakan mana yang haq dan bathil. Wallahu a’lam.
Dikutip dari http://www.republika.co.id/ 

   

Page 2 of 3