SLIDE 1
 
 
1
2
Iklan_herbaVOMITZ
iklan_bjbsyariah
iklan_bnisyariah
iklan_hajimoelseafoodpusat
iklan_infaqcenter
iklan_majalahalbahjah
iklan_muamalat
 

Menjaga Perasaan Rakyat

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Tuesday, 29 November 2016 05:49

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Moch Hisyam

Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khaththab RA kedatangan tamu dari Azerbaijan. Tamu tersebut adalah utusan dari wali kota Azerbaijan. Tepat waktu menjelang fajar, Umar RA mengajak sang tamu singgah ke rumahnya. Pada saat itu, Umar berkata kepada istrinya, "Wahai Ummu Kultsum, suguhkan makanan yang ada. Kita kedatangan tamu jauh dari Azerbaijan."
Umar bin Khattab
Mendengar perintah suami, jawaban jujur keluar dari mulut istri Umar RA. "Kita tidak mempunyai makanan, kecuali roti dan garam,"jawab istri Umar. "Tidak mengapa," kata Umar. Akhirnya mereka berdua makan roti dan garam.

Sang tamu pun menyampaikan alasannya mendatangi Umar. "Wali kota Azerbaijan menyuruhku menyampaikan hadiah ini untuk Amirul Mukminin," kata utusan Azerbaijan seusai makan, sembari menunjukkan sebuah bungkusan. "Bukalah bungkusan itu dan lihat apa isinya!" perintah Amirul Mukminin.

Setelah dibuka, bungkusan itu ternyata berisi gula-gula, "Ini adalah gula-gula khusus buatan Azerbaijan," sang tamu menjelaskan. "Apakah semua kaum Muslimin (rakyat) di sana juga mendapatkan kiriman gula-gula ini?" kata Umar. Dan langsung sang utusan menjawab, "Oh tidak! gula-gula ini khusus untuk Amirul Mukminin."

Mendengar jawaban itu, wajah Umar tampak kelihatan marah. Segera ia memerintahkan utusan Azerbaijan itu untuk membawa gula-gula tersebut ke masjid dan membagi-bagikannya kepada fakir miskin. "Barang ini haram masuk ke dalam perutku, kecuali jika kaum Muslimin memakannya juga," kata Umar.

"Dan engkau cepatlah kembali ke Azerbaijan. Sampaikan kepada yang mengutusmu (wali kota Azerbaijan) bahwa jika ia mengulangi peristiwa ini kembali, aku akan memecat dia dari jabatannya!"

Kisah di atas menggambarkan betapa sederhananya Umar RA, sekaligus menunjukkan kepada kita betapa Amirul Mukminin sangat menjaga perasaan rakyatnya. Bagaimana ia bisa menikmati sendirian hadiah dari wali kota Azerbaijan, sementara rakyat yang dipimpinnya tidak mendapatkan bagian?

Menjaga perasaan rakyat merupakan bagian penting yang harus dilakukan seorang pemimpin. Apalagi, jika kepemimpinan yang diraihnya itu atas pilihan rakyat dan mendapatkan gaji dari uang rakyat. Maka ia harus benar-benar menjaga perasaan rakyatnya.

Ketika seorang pemimpin mampu menjaga perasaan rakyatnya maka akan banyak hal positif tercipta di tengah masyarakat. Di antaranya, terwujudnya kedamaian, terbinanya persatuan rakyat, dan kemakmuran yang akan dirasakan oleh semua rakyatnya.

Wujud dari pemimpin yang menjaga perasaan rakyatnya terlihat dari kesederhanaan, keadilan, dan sikapnya yang apresiatif terhadap keinginan rakyatnya. Karena, tidak mungkin seseorang pemimpin yang menjaga perasaan rakyatnya hidup mewah sementara rakyatnya miskin, bersikap zalim, dan tidak mengacuhkan aspirasi dari rakyatnya.

Semoga para pemimpin bangsa ini memiliki kepekaan dan mampu menjaga perasaan rakyatnya. Sehingga, potensi perpecahan dan kegaduhan yang mengancam bangsa ini bisa diredam dan diatasi dengan keadilan dan sikap gigih dalam memperjuangkan aspirasi rakyatnya. Amin. Wallahu a'lam. 

   

Kedudukan Rakyat di Mata Umar bin Khathab

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Sunday, 27 November 2016 06:17

Diantara kedudukan rakyat di mata Umar sebagai sarana evaluasi diri. Kedua, sebagai satandar kesuksesan pemimpin di dunia dan akhirat
umar-bin-khattab_kuda-31v0fpg2ortvb366in9hj4
SOSOK Umar bin Khatab, di sepanjang sejarah, selalu menyimpan keteladanan yang patut ditiru. Dalam hal interaksi antara pemimpin dan rakyat misalnya, kisah-kisah berikut menunjukkan secara jelas bagaimana kedudukan rakyat di mata sahabat yang berjuluk al-Fârûq (pembeda antara yang haq dan batil) ini.

Sebagai pemimpin, ayah dari Hafshah ini, memosisikan rakyat sebagai sarana  untuk evaluasi diri. Saat Aslam menawarkan diri untuk membantu mengangkat bahan baku makanan untuk ibu dan anak yang kelaparan di malam hari, dengan tegas ditolak langsung oleh Umar, “Apakah kamu mau menanggung dosaku kelak di hari kiamat?”(Mahdhu al-Shawâb fî Fadhâili `Umar bin al-Khatthâb, 361).

Pada peristiwa ini, Umar menjadikan rakyatnya sebagai bahan evaluasi diri. Bila ada rakyatnya yang kesusahan, maka yang patut disalahukuman adalah dirinya sendiri, dia tidak mencari ‘kambing hitam’, bahukuman ia pulalah yang harus bertanggung jawab memecahukuman persoalan. Maka tidak mengherankan jika ia menolak tawaran Aslam, karena rakyat dijadikan sebagai cermin diri.

Sisi menarik lain yang tidak kalah penting terkait posisi rakyat di mata Umar, tidak seperti penguasa-penguasa dunia di zamannya, Khalifah Kedua ini memiliki pandangan unik mengenai standar kesuksesan. Bagi beliau, seorang pemimpin bisa disebut sukses jika tidak menyia-nyiakan atau menelantarkan rakyatnya.

Saat Mu`awiyah bin Khudaij menganggap Umar tidur siang (qailulah), belia pun merespon dengan tegas, “Jika aku tidur di siang hari, maka aku akan menyia-nyiakan rakyatku. Jika aku tidur di malam hari maka aku menyia-nyiakan diriku (karena tidak bisa bermunajat dengan Allah), maka bagai mana mungkin aku bisa tidur di kedua waktu ini wahai Muawiyah?”(Ahmad bin Hanbal,  al-Zuhd, 152).

Doa Umar berikut juga bisa menjadi bukti bahwa beliau tidak ingin menyia-nyiakan rakyatnya sedikit pun, “Ya Allah aku sudah tua, kekuatanku menurun, wakyatku semakin banyak, matikanlah aku dalam kondisi tidak menyianyiakan dan menelantarkan rakyat.”(At-Thabaqât, 3/324-330).

Tak hanya itu, rakyat dijadikan bagian yang intim di masa kepemimpinannya. Ibnu Jauzi mengatakan dalam Kitab Manâqib (66,67) bagaimana keintiman Umar dengan rakyatnya, “Rakyat mendengar dengan baik perkataannya, mengetahui amalnya. Bahkan beliau tidak malu bergumul di pasar bersama mereka, menyelesaikan persoalan dengan baik di antara mereka.” Pada beberapa riwayat dijelaskan bahwa sebagian malam harinya banyak digunakan untuk memantau secara langsung kondisi rakyatnya yang di masa ini dikenal dengan istilah blusukan. Tapi, tidak untuk mencari citra, karena siapa yang mau mencari citra di malam hari yang sepi?

Pada suatu malam Thalhah bin Ubaidillah membuntuti Umar. Dari kejauhan, beliau terlihat sedang mendatangi rumah satu ke rumah lainnya. Di pagi hari, Thalhah bin Ubaidillah mendatangi  rumah tersebut. Ternyata di dalamnya ada seorang kakek tua renta buta yang sedang berbaring. Ketika ditanya perihal apa yang dilakukan Umar, kakek itu menjawab bahwa Umar sedang memenuhi kebutuhan serta menghilangkan kesusahannya (al-Hadâiq, 364). Pemimpin yang tidak memiliki hubungan intim dengan rakyat, tidak akan mungkin melakukan pekerjaan yang sangat sulit ini, kecuali dalam konteks pencitraan.

Di lain waktu, rakyat dijadikan Umar sebagai korektor bagi kekhilafannya. Pernah di muka umum, sahabat yang terkenal dengan keadilannya ini berpidato, “Wahai takyatku siapa saja di antara kalian yang melihat kekhilafan dariku, maka segera luruskan.” Saat itu juga berdirilah seseorang berkomentar, “Jika kami melihat kebengkokan(kesalahan) darimu, maka akan kami luruskan dengan pedang kami.” Umar pun berkomentar, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan pada umat ini orang yang meluruskan kesalahan Umar dengan pedangnya.”(al-Riyâdh al-Nadhrah, 2/381).

Yang tidak kalah penting, rakyat oleh Umar bin Khatab dijadikan sebagai mitra terbaik untuk bersama-sama memproduksi amal kebaikan. Kalau kita melihat kepemimpinannya, adalah cerminan riil dari firman Allah:

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ ٩٦

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahukuman kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”(QS. Al-A`raf[7]: 96).

Mereka kompak dalam beriman dan bertakwa, sehingga wajar jika dibukakan berkah dari langit dan bumi. Pada zamannya, wilayah Islam sedemikian luas, keadilan merata, kemakmuranpun menyebar ke penjuru negeri.

Dari pemaparan singkat ini, dapat disimpulkan, di antara kedudukan rakyat di mata Umar adalah sebagai berikut. Pertama, sebagai sarana evaluasi diri. Kedua, sebagai satandar kesuksesan pemimpin di dunia dan akhirat. Ketiga, sebagai bagian yang intim dari dirinya. Keempat, sebagai korektor bagi kesalahan diri. Kelima, sebagai mitra terbaik dalam memproduksi amal kebaikan.

Sebagai penutup, komentar Hurmuzan [Raja Khurasan] bisa dijadikan pelajaran ketika melihat Umar tertidur di masjid –sebagai gambaran bagaimana posisi Umar dengan rakyatnya-, “Engkau telah berbuat adil(kepada rakyatmu) sehingga engkau bisa tidur.” (al-Tarâtîb al-Idâriyah, 2/250). Wallâhu a`lam bi al-Shawâb.* /Mahmud Budi Setiawan

(dikutip dari Hidayatullah.com)

   

Melihat Sejarah Suriah di Masa Peradaban Islam

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Sunday, 27 November 2016 06:08

Dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID, Al-Imam al- Waqidi dalam bukunya yang berjudul The Islamic Conquest of Syria menyebutkan ash-sham memiliki makna yang signifikan dalam penamaan Islam. Alquran menyebutnya sebagai ‘tanah yang diberkati’ dimana Masjid Al Aqsha berada. 
kota-damaskus-suriah-pusat-kekuasaan-dinasti-umayyah-_120813131723-827
Ash-Sham adalah rumah bagi kebanyakan Rasul dibanding tanah lainnya. Banyak Rasul yang dimakamkan di Suriah seperti Mu’awiyah serta ulama Suriah yang tak terhitung banyaknya contohnya Al Imam an Namawi. Suriah telah banyak menghasilkan pendekar-pendekar hebat (As-Sultan Nurrudin) dan para martir (ash-Syaikh Abdullah al Azzam) serta nabi Isa as turun di Damaskus dan memiliki ibu kota Baytul Muqadas. Dan Suriah adalah tempat berkumpul pada hari kiamat.

Muhammad Syafii Antonio dalam bukunya yang berjudul Encyclopedia of Islamic Civilization menyebutkan, sebelum berada di kekuasaan Islam, Suriah dikuasai oleh Bizantum. Pembebasan Suriah dan Damaskus sesungguhnya tidak terlepas dari ambisi kerajaan Romawi untuk merampas wilayah Islam sekaligus karena kekejaman orang-orang kaisar Heraklius. Di antara kekejamannya adalah penangkapan dan pembunuhan terhadap utusan Rasulullah. 

Pembebasan Suriah oleh pasukan Muslim bermula dari ekspedisi ke selatan Suriah pada tahun 629 M di saaat Nabi Muhammad SAW masih hidup. Dari situlah kemudian meletus perang Mu’tah.

Perang Mut’ah adalah perang pertama antara Islam dan Romawi. Perang ini memiliki nilai sangat stragtegis dan politis bagi umat Islam dan bangsa Arab karena untuk kali pertama dalam sejarah suku-suku Arab berhadapan dengan negara adidaya. Perang ini merupakan pintu gerbang menuju penaklukan ke negeri kristen. Mu’tah merupakan sebuah daerah di dekat Palestina yang pada masa itu termasuk wilayah Syam atau Suriah. 

Pada tahun 661, Damaskus memulai sejearah barunya sebagai pusat pemerintahan umat Islam. Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada saat itu menjabat sebagai gubernur Suriah. Sejak saat itu, dimulailah sejarah Dinasti Umayyah. Dari tahun 661-750 Damaskus menjadi ibu kota pemerintahan Muslim Dinasti Umayyah. 

Sekitar tahun 750, kekuasan Dinasti Umayyah berakhir di tangan Dinasiti Abbasiyah. Ibu kota pemerintahan kemudian dipindahkan ke Baghdad Irak. Dinasti ini berkembang pesat selama dua abad pertama. Tetapi mulai meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bagian dari tentara kerajaan yang mereka bentuk yang dikenal dengan istilah Mamluk. Dinasti Abbasiyah akhirnya runtuh pada tahun 1258 yang antara lain dikarenakan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang berhasil menghancurkan Baghdad. 

Damaskus pernah kembali menjadi pusat pemerintahan pada masa Sultan Salah ad-Din Yusuf bin Ayyud atau yang biasa disebut Salahuddin al-Ayyubi (1137-1193). Pada masa inilah Damaskus mencapai puncak kejayaannya. 

Memasuki abad ke 16, Sultan Selim I yang memerintah di Istanbul  (Turki) menaklukan Suriah. Sampai perang Dunia I, Damaskus menjadi bagian dari Khalifah Turki Utsmani (Ottman).

   

Abul Wafa Muhammad Al Buzjani, Peletak Dasar Rumus Trigonometri

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Friday, 22 February 2013 10:44

Abul Wafa Muhammad Al Buzjani, Peletak Dasar Rumus Trigonometri
source : www.republika.co.id


bgn5-01Masa kejayaan Islam tempo dulu antara lain ditandai dengan maraknya tradisi ilmu pengetahuan. Para sarjana Muslim, khususnya yang berada di Baghdad dan Andalusia, memainkan peran cukup penting bagi tumbuh berkembangnya ilmu kedokteran, matematika, kimia, dan bidang ilmu lain yang sekarang berkembang. Selama berabad-abad sarjana-sarjana Muslim tadi menuangkan buah pikiran dan hasil penelitian ke dalam kitab-kitab pengetahuan untuk kemudian menjadi rujukan ilmu pengetahuan modern. Kini, dunia telah dapat mengambil manfaat dari pengembangan ilmu yang dirintis oleh para ilmuwan serta sarjana Muslim.

Read more: Abul Wafa Muhammad Al Buzjani, Peletak Dasar Rumus Trigonometri

   

Abu Nawas Legenda Humor Penyair Islam

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Friday, 22 February 2013 10:41

Abu Nawas Legenda Humor Penyair Islam
source : www.republika.co.id

 
ind_0302Ilahi lastu lilfirdausi ahla wala aqwa 'ala naril jahimi Fahab li tawbatan waghfir dzunubi fainaka ghafirud
dzanbil adzimi. Senandung syair yang menyentuh hati itu mengalun begitu merdu. Sembari menunggu datangnya shalat Maghrib dan Subuh, para jamaah shalat kerap melantunkan syair itu dengan syahdu di mushala dan masjid. Meski syair itu telah berumur hampir 11 abad, namun tampaknya tetap akan abadi.

Read more: Abu Nawas Legenda Humor Penyair Islam

   

Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Friday, 22 February 2013 10:39

Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus
source : www.republika.co.id


ind_0919Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.  Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.

Read more: Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus

   

Abdullah bin Mas'ud: Sang Pelayan Rasul

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Friday, 22 February 2013 10:35

Abdullah bin Mas'ud: Sang Pelayan Rasul
source : www.republika.co.id



tra_0106Masyarakat di sekitarnya memanggilnya Ibn Umm Abd atau putra dari budak wanita. Namanya sendiri adalah Abdullah dan nama ayahnya adalah Mas'ud. Dia adalah sahabat Rasulullah SAW yang ketika kecil merupakan penggembala kambing milik salah satu ketua adat Bani Quraisy bernama Uqbah bin Muayt.

Read more: Abdullah bin Mas'ud: Sang Pelayan Rasul

   

Abdullah bin Abbas: Menjadi 'Tinta' Bagi Umat

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Friday, 22 February 2013 10:33

Abdullah bin Abbas: Menjadi 'Tinta' Bagi Umat
source : www.republika.co.id


ind_0106-1Di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW, terdapat beberapa sahabat kecil yang ketika bersyahadat mereka berusia sangat muda. Atau, ketika mereka dilahirkan, orang tuanya telah menjadi Muslim lebih dulu. Salah satunya adalah Abdullah bin Abbas, atau lebih dikenal dengan Ibnu Abbas.

Read more: Abdullah bin Abbas: Menjadi 'Tinta' Bagi Umat

   

Abdul Ma ali Al Juwaini - Sang Cahaya Agama

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Thursday, 21 February 2013 09:36

Abdul Ma'ali Al-Juwaini Sang 'Cahaya Agama'
source : www.republika.co.id

 

00_PICINTRO (1)Dia sebagai guru besar di Madrasah Nizaminah, tempat di mana Imam al-Ghazali pernah menimba ilmu. Ia dijuluki Imam Haramain karena pernah tinggal di dua kota suci, Makkah dan Madinah. Ulama ini bernama lengkap Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad Al-Juwanini An-Nisaburi. Dia dilahirkan di Bustanikan, Nisabur, pada 12 Pebruari 1058. Pendidikan pertamanya didapatkan dari ayahnya yang bernama Syekh Abdullah, seorang keturunan Arab berdarah bangsawan. Di samping itu, Al-Juwaini juga menimba ilmu di sekolah agama yang berada di wilayah tempat tinggalnya.

Read more: Abdul Ma ali Al Juwaini - Sang Cahaya Agama

   

Page 3 of 3