SLIDE 1
 
 
1
2
Iklan_herbaVOMITZ
iklan_bjbsyariah
iklan_bnisyariah
iklan_hajimoelseafoodpusat
iklan_infaqcenter
iklan_majalahalbahjah
iklan_muamalat
 

Jangan Tinggalkan Bersedekah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Sunday, 10 September 2017 07:22

Hendaknya menyedekahkan dan menginfakkan sesuatu yang disukai, niscaya akan mendapatkan kebajikan.

JANGANLAH Anda meninggalkan sedekah karena khawatir harta milik akan berkurang. Rasul Shalallaahu `alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah harta itu berkurang karena disedekahkan.” Bahkan bersedekah itu dapat menyebabkan kekayaan dan keluasan, serta menolak kemiskinan dan kesusahan. Sedangkan tidak mau bersedekah malah menyebabkan sebaliknya, yaitu menarik kemiskinan dan menghilangkan kekayaan.

Pak-Badar-penjual-berinfak-di-masjid-by-Zainal-1-31jl8uzw695gpmsqfwk1ds

Allah Ta’ala berfirman: “…Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (Saba’ [34]: 39).

Ketahuilah bahwa orang miskin yang bersedekah dengan harta yang jumlahnya sedikit lebih utama dibandingkan sedekah banyak dari orang yang kaya raya. Nabi bersabda: “(Pahala) satu dirham dapat melebihi seribu dirham.”

Beliau ditanya: “Bagaimana bisa seperti itu?” Rasul bersabda lagi: “Ada seseorang yang hanya memiliki dua dirham lalu salah satunya digunakan untuk sedekah. Dan ada lagi seseorang yang karena melimpah hartanya, dia bersedekah seribu dirham. Maka yang satu dirham itu dapat melebihi yang seribu dirham.” Maka satu dirhamnya orang yang tak berpunya itu lebih utama dibandingkan dengan seribu dirhamnya orang yang kaya raya.

Di antara akhlak yang tercela dan dilarang adalah melecehkan dan menghina orang fakir karena kefakirannya. Padahal orang fakir itu adalah syiarnya (simbol) para nabi, perhiasannya orang-orang yang tulus (wali), dan sekaligus kebanggaan mereka. Dengan demikian, memandang rendah mereka, meremehkan hak-hak mereka, mengutamakan orang-orang kaya karena mengharapkan dunia mereka, maka itu semua merupakan tindakan jahat yang tercela dan berbahaya.

Hendaknya Anda berhati-hati dalam masalah ini. Hormatilah manusia dari sisi karena mereka telah mengagungkan Allah dan Rasul-Nya, juga karena mereka telah menegakkan agama-Nya dan mengetahui hak-hak Allah Ta’ala. Tak peduli apakah mereka itu fakir atau kaya.

Benar, orang-orang fakir dibandingkan dengan orang-orang kaya dalam kaca mata agama memang memiliki nilai lebih. Ini karena kefakiran mereka, penderitaan mereka, serta sedikitnya orang yang menghargai mereka. Lain halnya dengan orang-orang kaya. Sesungguhnya mental-mental kerdil –yang dimiliki oleh kebanyakan manusia– mendorong mereka menghormati orang-orang kaya. Semua itu karena dunia yang mereka miliki. Di mata orang-orang yang bermental kerdil, harta adalah di atas segala-galanya.

Hendaknya Anda menyedekahkan dan menginfakkan sesuatu yang Anda sukai. Niscaya Anda akan mendapatkan kebajikan. Allah Ta’ala berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai…” (Aali `Imraan [3]: 92).

Menurut para ulama penafsir Al-Qur’an, yang dimaksud dengan kebajikan di sini adalah surga. Hendaknya Anda juga mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan Anda sendiri. Artinya, Anda memiliki sesuatu benda yang diperlukan, namun Anda mengalah karena ada saudara muslim lainnya yang juga memerlukannya. Dengan sebab inilah Anda akan termasuk orang-orang yang beruntung.

Dalam hal ini Allah Ta’ala telah berfirman: “…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr [59]: 9).

Gembirakan orang-orang yang meminta di depan pintumu. Sesungguhnya orang yang datang itu merupakan hadiah dari Allah untukmu. Dia berhak untuk diberi, meskipun dia datang dengan berkuda. Sebagaimana telah dijelaskan dalam riwayat hadits. Setidak-tidaknya tolaklah dengan cara yang halus.

Senangkan juga dirimu saat memberi kepada peminta tersebut meskipun kerap kali dia datang untuk meminta. Sesungguhnya Rasulullah menyambut peminta dengan tangannya yang mulia. Karena Allah Ta’ala juga mengambil sedekah dari tangan pemberi dengan tangan-Nya yang suci sebelum sedekah itu jatuh di tangan orang yang meminta, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits.

Bahkan Allah Ta’ala juga berfirman: “Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?” (At-Taubah [9]:104).*/Syaikh ‘Abdullah bin ‘Alawi Al Hadad, dari bukunya Pancaran Iman Seorang Muslim.

   

Melaksanakan Sifat Amanah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Friday, 11 August 2017 06:34

SIFAT amanah merupakan sifat terpenting dari Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, sifat yang oleh kaum jahiliah Makkah disematkan kepada diri beliau sebelum turun wahyu, sehingga beliau dikenal dengan julukan al-Amin; orang yang amanah. Julukan yang kemudian populer dan sangat lekat di lidah masyarakat Makkah. Dengan julukan inilah semua orang, laki-laki ataupun perempuan, menyebut Nabi dengan penuh takzim dan penghormatan.

Ketika usai membangun ulang Ka’bah, kaum Quraisy berisitegang, bahkan hampir bertumpah darah tentang siapa yang akan mendapat kehormatan meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya. Karena tak ada titik temu, mereka sepakat untuk menyerahkan putusan kepada siapa yang datang kepada mereka pertama kali.

Tiba-tiba Muhammad bin Abdullah muncul. Betapa girang kaum Quraisy. Mereka berteriak dengan penuh kepercayaan, “Inilah al-Amin. Inilah al-Amin. Kami rela dia yang memberi putusan!”

Apa yang segera terlintas di hati kaum Quraisy saat itu adalah sifatnya yang terkenal itu. Sengaja beliau dipanggil begitu karena mereka percaya beliau akan memberi jalan penyelesaian yang adil. Dan terbukti Nabi mampu mengatasi masalah mereka dengan cara yang sangat simpel dan melegakan semua pihak.

Itu terjadi jauh sebelum kenabian.

Lebih dari itu, bahkan setelah kenabian pun, rumah beliau menjadi pangkal penitipan barang paling dipercaya kalangan kaum musyrik –yang justru mengingkari kenabian beliau. Tanpa segan, mereka titipkan barang-barang yang dicemaskan hilang, padahal waktu itu dunia belum mengenal rumah penitipan barang. Setelah menerima perintah hijrah ke Madinah, Nabi menyuruh Ali tinggal dulu di Makkah untuk mengembalikan barang-barang titipan itu kepada pemiliknya masing-masing.

la-he-fall-time-change-20161031

Dapat Dipercaya

Amanah dalam arti yang luas dan dalam lebih dari sekedar menunaikan hajat duniawi kepada pemiliknya. Amanah hakikatnya lawan kata khianat. Orang yang amanah adalah orang yang dapat dipercaya dan membuat jiwa aman.

Orang-orang Quraisy begitu percaya kepada Rasulullah dalam urusan dunia. Dalam hal ini mereka tak pernah mencaci beliau. Mereka juga tidak curiga dan tidak menuduh beliau khianat. Bukan hanya dalam urusan harta benda, melainkan juga kehormatan dan jiwa. Karena itu, sangatlah aneh ketika mereka mendustakan beliau dalam hal kabar dari langit. Padahal, bagaimana mungkin pada saat yang sama seseorang amanah sekaligus khianat.

Dalam rumah tangga Nabi, tidak hanya beliau yang amanah. Tetapi juga segenap istri dan keluarganya. Tak ada yang mengatakan haknya tidak dipenuhi oleh salah seorang dari mereka. Karena, mereka memang menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya dan dalam arti yang seluas-luasnya.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Bilik-bilik Cinta Muhammad, penulis: Dr. Nizar Abazhah)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

   

Buah dari Kejujuran

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Thursday, 10 August 2017 05:38

Usai sholat Isya di masjid saya beranjak hendak pulang. Tapi saya menghentikan langkah ketika ada sebuah tas tergolek di depan saya. Dengan hati-hati saya angkat tas itu. Sedikit agak berat. Tapi saya tidak tahu siapa pemilik tas ini.
plantsmallDengan terpaksa untuk mengetahu identitas pemiliknya, saya buka tas itu dan menemukan sebuah amplop besar dan nama sebuah bank. Saya baca ada nama dan alamatnya serta tulisan sejumlah uang. Rp. 350 juta. Saya kaget. Antara bingung dan rasa amanah saya keluar masjid. Uang ini harus dikembalikan ke pemiliknya.

Saya bergegas memacu mobil ke alamat yang ada dibungkusan uang itu. Ketika sampai, saya beri salam dan mengetuk pintu rumah. Keluar seorang laki-laki berperawakan tinggi, berkulit putih cerah dan sangat tampan yang menanyakan mau ketemu siapa? Saya bertanya, "Saya mau bertemu Bapak Haji


Laporkan Iklan Tidak Layak

Hans Khairulloh. Apakah ada?"

"Saya nama yang saudara cari. Ada apa ya?"

"Pak Haji tadi sholat di masjid Al Ikhlas ?", tanya saya.

"Ya. Betul"

"Pak Haji tadi bawa apa ketika sholat?"

Laki-laki itu menjawab, "Bawa tas coklat dan ketinggalan. Saya lupa dimana nyimpannya."

Saya mengeluarkan tas yang tadi diketemukan di masjid. "Tas yang ini bukan pak?"

"Ya yang ini. Aduh terima kasih nak. Dalam tas ini bapak nyimpan uang dari Bank ."

Saya serahkan tas itu dan minta diri untuk pulang. Tapi saya ditahan pak Haji Hans, "Tunggu nak, ada yang ingin bapak sampaikan padamu sebagai rasa terima kasih bapak."

Pak Hans yang berwajah Indo ini lalu memanggil nama seorang wanita. Tidak lama kemudian muncul seorang wanita cantik sekali  ,berwajah indo bermata biru..berperawakan tunggi semampai dengan pakaian berhijab.  Masya Allah...

"Nak ini anak saya. Dia belum menikah. Dia janji akan menikah dengan laki-laki yang baik dan jujur seperti kamu."

Saya kaget. Dengan tergagap saya berkata, "Maaf pak, saya sudah beristri. Saya belum bilang apa-apa ke istri saya tentang rencana bapak ini."

Pak Hanu Hans tersenyum, dia bertanya, "Tenang nak, bapak nanti yang minta idzin ke istrimu. Ada no hpnya?"

Saya mengangguk lalu memberikan no hp tsb. Pak Haji Hans mencatat nomor HP saya dan langsung menelpon ke istri saya. Tubuh saya tiba-tiba gemetar saking gemetarnya sampai seperti diguncang-guncang apalagi saat telpon diberikan kepada saya katanya istri saya mau bicara, kemudian terdengar suara istri saya sambil menggoyang-menggoyang tubuh saya dengan lirih... yah... bangun yah... sahur! Puasa Syawal...!

   

Menjaga sikap Jujur

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Tuesday, 08 August 2017 09:56

SEORANG yang jujur di dalam jiwanya terdapat nilai rohani yang memantulkan sikap berpihak kepada kebenaran, moral terpuji, dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, sehingga ia hadir sebagai orang berintegritas yang mempunyai kepribadian terpuji dan utuh.

1238304642_46cc9b2668

Sifat jujur merupakan mutiara akhlak yang akan menempatkan seseorang dalam kedudukan mulia (maqamam mahmuda). Orang yang jujur berani menyatakan sikap secara transparan, terbebas dari segala kepalsuan dan penipuan. Hatinya terbuka dan selalu bertindak lurus, dan oleh karena itu ia memiliki keberanian moral yang sangat kuat.

Seperti halnya keikhlasan, kejujuran juga tidak datang dari luar. Tetapi dari bisikan kalbu yang secara terus menerus mengetuk-ngetuk dan membisikkan nilai moral luhur yang didorong hati nurani manusia yang fitrah. Kejujuran bukan sebuah paksaan, melainkan panggilan dari dalam diri seseorang.

Perilaku jujur diikuti oleh sikap bertanggung jawab atas apa yang diperbuat (integritas), sehingga kejujuran dan tanggung jawab ibarat dua sisi mata uang. Orang yang jujur selalu merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

“Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS Qaaf: 16)

Dalam kajian budaya kerja Islami tentang kejujuran, pernah terjadi suatu dialog antara Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan seorang anak gembala yang sedang menggembala ternak tuannya. Dialog tersebut seperti menjadi mitos yang melegenda, yang menjadi perlambang seorang anak manusia yang memegang teguh kejujuran yang diilhamkan oleh surah Al-Qaaf ayat 16 tersebut.

Ringkasan dialog tersebut adalah sebagai berikut:

Kh: Wahai gembala bagaimana kalau 1 ekor domba yang kamu gembalakan itu saya beli?

AG: Mohon maaf tuan, saya hanya diamanahi untuk menggembalakan dan tidak untuk dijual.

Kh: Bagaimana kalau 1 ekor itu saya beli dengan harga 10 kali harga pasar?

AG: Amanah adalah harga diri saya dan tidak bisa dibeli dengan uang.

Kh: Kambing gembalaan itu begitu banyak, kalau hanya 1 satu ekor tidak ketahuan. Kamu katakan saja dimakan serigala…

AG: (Dengan perasaan kesal) fa ainallah (di mana Allah)…

Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang saleh. Ia sebetulnya tidak benar-benar ingin membeli, tetapi hanya menguji kejujuran anak gembala itu. Hasil uji itu tersebut membuat Khalifah Umar bin Abdul Azizi bangga dengan sikap jujur yang menjadi integritas anak gembala itu. Masih adakah orang seperti itu di zaman sekarang ini?

Dengan demikian seorang pemimpin harus memiliki sifat jujur agar ia dipercaya oleh orang-orang yang dipimpinnya dan stakeholder (pihak-pihak yang terkait)-nya. Kalau seorang pemimpin kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya dan stakeholdernya gara-gara tidak jujur, maka ketaatan orang-orang yang dipimpinnya dan sikap stakeholdernya sudah diliputi rasa dongkol dan tidak ikhlas lagi mengikuti petunjuk atau perintahnya, serta berdampak pada kekecewaan. Akhirnya cepat atau lambat ia akan ditinggalkan oleh orang-orang yang dipimpinnya dan stakeholdernya.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Manajemen Bisnis Syari’ah, penulis: Prof. Dr. H. M. Ma’ruf Abdullah, SH., MM)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

 

   

3 Karya Besar Tsabit Bin Qurrah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Tuesday, 28 March 2017 09:04

dari REPUBLIKA.CO.ID -  Masa kegemilangan peradaban Islam mencatat sejumlah nama intelektual dan cendekiawan Muslim yang ulung di berbagai bidang. Salah satu nama itu adalah Tsabit bin Qurrah.

Sumbangsih tokoh kelahiran 836 M di Harran, yang kini masuk wilayah Turki itu, adalah ilmuwan yang terkenal produktif dengan karya-karyanya yang ilmiah, terutama di bidang eksakta. Dia adalah penemu besar dalam bidang matematika, geometri, dan astronomi.

Kepiawaiannya menguasai ilmu pengetahuan ini tak terlepas dari kemampuannya berbahasa asing. Ia mahir menggunakan bahasa Suryani, Arab, dan Yunani.

Tak heran, bahasa yang terakhir tersebut adalah peranti utama bagi Tsabit membuka cakrawala nan luas di belantara pengetahuan warisan Yunani. Ia banyak mengalihbahasakan karya-karya penting warisan Yunani ke dalam bahasa Arab. Berikut ini sejumlah karya besar tokoh yang wafat di Baghdad pada 18 Februari 901 M itu:

Matematika

Dalam bidang matematika, Tsabit bin Qurrah menerjemahkan banyak karya ahli matematika Yunani, Seperti Appollunius, Euclid, Archimedes, dan Ptolemaios. Ia juga mengomentari buku Elements dari Euclid dan buku Ptolemy yang berjudul Geograpia.

Selain menerjemahkan karya Yunani, Karya Tsabit bin Qurrah juga menghasilkan karya berjudul  Kitab al-Mafrudat (Kitab Data). Buku ini sangat populer di Abad Pertengahan yang berisi penjelasan seputar geometri dan aljabar geometri.

Ilmuwan Muslim.
Dalam Kitab Fi Ta'lif an-Nisab (buku tentang susunan rasio) Tsabit menjelaskan tentang  teori senyawa rasio. Teori ini kemudian melahirkan gagasan bilangan real dan untuk penemuan kalkulus integral.

Mekanik

Tsabit juga dikenal sebagai pendiri ilmu keseimbangan. Hal ini karena kitabnya yang berjudul Kitab Fi' al-Qarastun (buku keseimbangan balok). Inilah karyanya yang monumental dalam bidang ilmu mekanik.

Karyanya ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gherard dari Cremona dan menjadi sangat populer di Dunia Barat. Ia juga dikenal sebagai penemu ilmu statistik.

Astronomi

Dalam astronomi, Tsabit menulis banyak risalah tentang pergerakan matahari dan bulan serta jam matahari. Ia juga mengukur luas bumi dengan menggunakan garis bujur dan garis lintang secara teliti.

Penemuan Tsabit tersebut memberikan inspirasi kepada para pelaut, seperti Colombus, untuk melakukan pelayaran keliling dunia yang dimulai dari Laut Atlantik. Berkat penemuan tersebut, para pelaut bisa memastikan jika mereka tidak akan tersesat dan kembali ke tempat semula.

Penemuan penting Tsabit yang lain adalah jam matahari. Jam ini menggunakan sinar matahari untuk mengetahui peredaran waktu dan menentukan waktu shalat. Tsabit juga membuat kalender tahunan berdasarkan sistem matahari. Karya Tsabit dalam astronomi yang terkenal berjudul, Concerning the Motion of the Eighth SphereIa.

   

Teladan Salafus Shalih Tentang Mazhab

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Sunday, 12 March 2017 06:25

HIKMAH, ARRAHMAH.CO.ID - Suatu ketika, Imam Ahmad bin Hanbal,ra bertanya pada muridnya yang datang dari Mesir. "Apa yang kamu lakukan di Mesir?"

Muridnya menjawab "Masyarakat Mesir bermadzhab Maliky dan Syafi'i. Saya berusaha mengubah mereka mengikuti madzhabmu."
Imam Ahmad seketika itu marah "Kamu yang harus belajar madzhab mereka !!! Bukan mengajak mereka pada madzhabmu. Jangan membuat keresahan di masyarakat."
Teladan Salafus Shalih Tentang Mazhab
Sikap ini diteladani oleh guru mulia Habib Umar bin Hafidz, seperti yang diceritakan oleh murid beliau (Al Habib Hamid Jakfar Al-Qadri) dibawah ini :
"Penduduk Kota Tarim (Yaman), sejak ratusan tahun yang silam, mayoritas berakidah ahlusunnah wal jamaah dan bermazhab imam syafi'i dalam ilmu fiqih. Namun mereka sangat menghormati kelompok lain diluar mazhab syafi'i, terutama al Habib Umar yang mempunyai murid dari berbagai penjuru dunia, yang tentu mempunyai mazhab yang berbeda-beda.

Ketika Habib Umar mengajar ilmu fiqih dengan membaca kitab Yaqutu Nafis fi Madzhabi ibni idris [asySyafi'i] pada tiap dauroh shaifiah, beliau menerangkan dan mensyarah kitab tersebut dengan metode yang luar biasa. Dan menerangkan fiqih madzhaib arba'ah.  
Bahkan kadangkala beliau menceritakan pendapat mazhab lain selain mazhab yang empat. Tidak hanya itu, dalam kondisi tertentu beliau menyuruh sebagian murid beliau untuk taklid(ikut) pada selain mazhab syafi'i beliau sangat jarang mentarjih (membandingkan mana yang lebih kuat) dalil para pengikut mazhab, mungkin hal ini beliau lakukan untuk menghormati mazhab-mazhab yang ada. Itu juga menunjukan beliau bukan orang yang fanatik pada mazhab yang diikuti. Kendati beliau sangat kuat dan teguh didalam memegang prinsip dan mabda'"
   

Belas Kasih Imam Asy Syarbini terhadap Onta Sewaan

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Tuesday, 21 February 2017 07:34

Belas Kasih Imam Asy Syarbini terhadap Onta Sewaan


IMAM ASYARBINI adalah ulama besar madzhab Asy Syafi’i di masanya. Ulama shalih mufti di Al Azhar itu benar-benar menjaga akhlak dan ibadahnya saat menempuh perjalanan menunaikan ibadah haji.

Imam Asy Syarbini menyewa seekor onta untuk menemani perjalanannya. Namun, ia lebih banyak menuntun hewan itu saat perjalanan baik siang maupun malam, sambil membaca Al Qur`an dan wirid. Penulis kitab Mughni Al Muhtaj ini tidak mengendarai onta itu, kecuali jika dirinya sudah merasa lelah berjalan, karena rasa kasihan terhadap hewan tersebut. (Lawaqih Al Anwar Al Qudsiyyah, hal. 215)

   

Ibu Sentral Kehidupan

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Saturday, 18 February 2017 05:58

CINTA terhadap anak adalah santapan jiwa yang dapat memberi, pengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya. Jasmani membutuhkan santapan makan, sedangkan rohani memerlukan santapan cinta kasih.

Anak – anak sangat membutuhkan belaian kasih dan kehalusan jiwa sejak awal mula kehidupannya, sehingga tumbuh dewasa dan berhubungan dengan masyarakat secara baik.

Menciptakan hubungan harmonis, penuh kasih sayang dan hormat menghormati. Mereka berani mengarungi realita hidup dengan penuh keyakinan dan keberanian. Harapan, semoga kita dapat menciptakan kasih sayang yang sempurna dalam hubungan keluarga, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam telah membimbing kita. Abu Hurairah menerangkan, bahwa Aqra’ bin Habis melihat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam mencium cucunya Hasan bin Ali atau Husain bin Ali. Ia berkata: “Aku mempunyai sepuluh orang anak. Belum satu pun yang pernah aku cium pipinya.” Maka Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Baragsiapa tidak memiliki rasa kasih sayang, maka tidak akan dikasih sayangi Allah.”

Diantara kewajiban seorang ibu yang harus dilaksanakan terhadap anak – anaknya ialah menanamkan perasaan cinta kasih dalam lubuk hati mereka yang paling dalam.

Mengusir jauh – jauh sifat dan sikap benci dari jiwa mereka. Anak memiliki kepribadian sempurna ialah yang mencintai keluarga dan saudaranya. Kasih sayang terhadap orang – orang lemah. Menjauhi orang – orang yang berakhlak rendah bagaikan binatang.

Perasaan cinta kasih dapat ditananamkan kepada anak dengan jalan melatih menjauhi permusuhan dan kegemaran menyakiti atau merugikan orang lain, senang perdamaian dan menghormati sesama.

Apabila sejak kecil seorang anak telah dibiasakan melakukan hal – hal yang baik, maka ia akan menjalin hubungan yang baik dengan teman – teman. Memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, sehingga ia dicintai dan dikagumi masyarakat. Ia lebih cenderung mengikuti kebaikan – kebaikan yang dilakukan masyarakat, dan kehendak pun akan diikuti pula oleh masyarakat.

Cinta kasih dan kasih sayang tidak akan tertanam dan menjadi kenyataan dalam kehidupan anak kalau hanya mengandalkan petunjuk – petunjuk yang diberikan oleh seorang ibu. Ia hanya dibekali dengan keterangan –keterangan dan nasehat. Namun apabila seorang ibu menanamkan sikap keibuan yang lembut dan kebiasaan – kebiasaan yang baik sejak kecil, maka akan menjadi kenyataan dalam kehidupan anak.

Dan apabila kebiasaan melakukan hal – hal yang baik ditanamkan dengan melatih secara penuh kasih sayang dalam praktek hidup keseharian, maka akan memberikan dampak positive dalam perkembangan jiwa. Mudah dilakukan oleh seorang anak, yang akhirnya akan ringan pula dilakukan pada masa – masa selanjutnya.

Apabila kita berbicara masalah “ rumah tangga ” maka lebih dahulu kita satukan pandang dalam percakapan, yakni rumah tangga adalh satu ikatan yang kuat. Tidak ada perbedaan antara yang kecil dengan yang besar, yang kuat dengan yang lemah, laki – laki dengan perempuan. Setiap individu dalam tubuh keluarga mempunyai tabiat dan kepribadian sendiri – sendiri.

Sebagai sosok manusia yang berdiri sendiri tanpa ketergantungan yang lain. Mempunyai kecenderungan dan kemampuan khusus, yang tidak dimiliki anggota keluarga yang lain. Karena itu kewajiban seorang ibu ialah memperlakukan mereka secara adil.

Misalnya, seorang anak yang lebih dewasa mengetahui ibunya lebih memperhatikan adiknya, baik dalam memenuhi kebutuhan maupun kasaih sayang, maka jiwanya akan terpengaruh. Sikap pilih kasih ini akan melahirkan tekanan batin yang mendatangkan dampak negatif bagi kehidupan anak yang merasa kurang diperhatikan.Jangan pilih kasih, memprioritaskan salah satu anak. Misalnya, lebih mengasihi anak yang kecil daripada kakaknya, lebih mencintai anak laki –laki daripada perempuan. Hal ini akan memberi pengaruh negative dan jelek terhadap salah satu anggota keluarga, sehingga keharmonisan hubungan diantara mereka akan hancur dan punah.

mendidik-anak-sholeh1-32zokd77icilthlycd7ke8

Minimal timbul perasaan benci terhadap adiknya yang dianakemaskan oleh orang tua. Akibatnya, hubungan kasih sayang menjadi putus diantara mereka. Bahkan lebih cenderung memusuhi kepada inu yang memanjakan adiknya. Dan rasa kecemburuan terhadap keluarga yang lain tentu lebih besar. Kasih sayang seorang ibu harus dibagi rata terhadap anak – anaknya, agar tidak timbul tekanan batin dan retaknya hubungan kasih sayang diantara mereka.
 

Laki –laki maupun perempuan diperlakukan sama,dengan penuh keadilan dan perbandingan yang wajar. Jangan sekali – sekali mengistimewakan slah satu anak dalam kasih sayang, sedangkan terhadap anak yang lain biasa – biasa aja.

Jangan memperlihatkan kemesraan hubungan dengan salah satu anggota keluarga tanpa menyertakan yang lain. Jangan mencurahkan kasih sayang terhadap anak tanpa adanya kebijaksanaan. Cinta kasih seorang ibu yang dicurahkan kepada anak – anak dengan penuh kebijaksanaan merupakan pintu menuju keharmonisan hubungan antara anggota keluarga.

Mencapai kebahagiaan hidup dan ketentraman lahir batin. Sejuk dan nyaman berada dalam lingkungan keluarga. Kesejukan itu tidak terkena polusi keirian dan kebencian. Dari sumber inilah akan lahir anak – anak yang sholih, berguna bagi agama nusa dan bangsa.

Anak shalih hanya lahir dari keluarga yang maslahah dan sakinah. Keluarga yang penuh kedamaian, ketenteraman, teguh dalam keimanan dan pendirian.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam adalah teladan yang baik bagi umat manusia. Beliau telah bersabda : “Berbuat adillah kamu terhadap anak – anakmu. Demikian dalam mencium pipinya.”

Adil, tidaklah selamnya harus sama, tetapi bijaksana dalam memberikan kasih sayang dan memenuhi kebutuhan, sesuai tingkat keperluan mereka.*/Alief Z Makarim, diambil dari buku “Wahai Ibu Selamatkan Anakmu” (karangan Hamid Abdul Khalid Hamid)

 

 

   

6 Karakter Lebah yang Mengandung Hikmah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Friday, 30 December 2016 08:57

Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih, dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya)" (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Bazzar). Tentu, ada keistimewaan yang dimiliki hewan kecil bernama lebah ini hingga nabi menjadikannya inspirasi bagi seorang mukmin, bahkan Allah mengabadikan namanya pada salah satu surah ke-16 dalam Alquran, yakni an-Nahl.

Seorang mukmin haruslah memiliki sifat-sifat unggul dan istimewa dibandingkan dengan manusia lain. Kehadirannya selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Seperti dijelaskan Rasulullah SAW, "Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain." Perhatikan beberapa karakter lebah yang mengandung hikmah untuk diambil manfaat. Pertama, hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih. Lebah hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lain yang mengandung bahan madu atau nektar.
a-blue-banded-bee-hovers-above-a-pink-flower-_161118133425-244Begitulah pula sifat seorang mukmin, haruslah mencari dan makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di muka bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan (QS al-Baqarah [2]:168). Karena itu, jika mendapatkan amanah, dia akan menjaga dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi merupakan khabaits (kebusukan). Kedua, mengeluarkan yang bersih. Dari lebah yang dikeluarkan adalah madu yang menyehatkan bagi manusia. Dia produktif dengan kebaikan dibandingkan binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikkan. Seorang mukmin seyogianya produktif dengan kebajikan (QS al-Hajj [22]:77).

Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya bukan menyengsarakan orang lain, melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaatan manusia. Ketiga, tidak pernah merusak. Lebah biar bagaimanapun menambatkan diri di dahan. Dahan itu tidak rusak dan patah. Artinya, tidak merusak lingkungan hidupnya, padahal dia tidak punya akal. Manusia yang katanya punya akal justru berlomba-lomba merusak lingkungan hidupnya sendiri demi keserakahan diri sendiri dan keturunannya. Egoistis tidak memikirkan orang lain menderita nantinya atau tidak.
Keempat, bekerja keras.
Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat "menetas"), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Seorang mukmin lebih dituntut bekerja keras dan semangat pantang kendur. Jika telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain (QS as-Syarh [94]:7).
Kelima, bekerja secara kolektif dan tunduk pada satu pimpinan. Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya.

Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengundang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman yang diibaratkan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS ash-Shaff [61]:4)

Keenam, tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu. Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan "kehormatan" umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin harus memiliki solidaritas dan kepedulian empati terhadap sesamanya, dalam kondisi dan keadaan apa pun bagai satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Wallahu a'lam.

   

Page 1 of 3